MEMASARKAN PROGRAM SDM

Darmin A. Pella

Dalam pengalaman konsultasi, saya sering menyaksikan betapa sebuah program terkait SDM yang bagus bisa gagal karena miskin pendekatan pemasaran. Ini dapat dimaklumi karena keterampilan menginjeksi prinsip-prinsip pemasaran dalam program SDM mungkin juga masih langka.

Saya percaya bahwa kemampuan pemasaran perlu dijadikan kurikulum inti dari sistem pembelajaran manajemen SDM, agar para pengelola program manajemen SDM tidak hanya menjalankan program tetapi, dengan sadar memasarkannya.  Tulisan ini membahas tantangan pemasaran program SDM serta manfaat orientasi pemasaran dalam meningkatkan keberhasilan program-program SDM.  

Tantangan berat membuat program SDM berhasil pertama-tama karena umumnya program SDM dipandang “merepotkan, kerjaan orang SDM yang mengada-ada saja” dan seterusnya. Stereotipe program SDM bernuansa negatif akibat program-program SDM di masa lalu yang sangat bernuansa hubungan industrial.

Penelitian menunjukkan sel abu-abu di otak kita lebih kuat mengingat pengalaman buruk ketimbang positif dalam jangka yang lama. Pengalaman positif seperti kenaikan gaji, bonus, promosi, outing, dan sejenisnya jauh lebih mudah dilupakan karyawan. Tetapi trauma rasionalisasi, indisipliner, sistem baru yang njelimet, konsep manajemen silih berganti yang bikin ruwet, dan sejenisnya mungkin akan menetap lebih lama dalam ingatan karyawan.

Tantangan keberhasilan lainnya ialah karena program SDM kebanyakan bersifat intangible. Sangat mudah memasarkan produk tangible karena kita dapat langsung menunjuk, melihat, merasakan dan mencoba benefitnya. Ketika Anda menjual Innova, sangat mudah bagi Anda meminta customer melakukan test drive untuk menikmatinya seketika (real-time). Program SDM? Tidak semudah itu.

Di sisi lain, menggunakan produk tangible, pada saat pertama menggunakan adalah saat terbaik. Selanjutnya performanya menurun dan menjadi barang bekas (used). Tetapi program SDM, penggunaan pertama kali justru adalah kesulitan terbesar. Pemakaian pertama adalah yang terberat. Implementasi CBHRM, policy deployment, balanced scorecard, corporate performance management,  atau proyek software SAP yang kini banyak perusahaan bersaksi manfaatnya, pada saat menuju go-live adalah yang paling menimbulkan bad atau traumatic experience.

Kesulitan-kesulitan di atas membuat banyak, mungkin amat banyak, program SDM yang bagus-bagus tetapi gagal menunjukkan performa sebenarnya. “Sebenarnya isi programnya bagus, tetapi pendekatannya yang kurang sesuai,” kata pimpinan unit kerja yang menyadari masalah sebenarnya.

Jerry W. Gilley dan Steven A Eggland dalam Marketing HRD Within Organization menulis bahwa “HR profesional must be marketing oriented. We believe that HRD programs fail because they are not based upon the needs of organization”.

Alasan lain kegagalan program SDM ialah karena ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi dan kebutuhan organisasi. Meskipun kebutuhan program SDM dirasakan hampir semua CEO berpikiran terbuka dewasa ini, program SDM yang seusai kebutuhan belum tentu otomatis tercipta.

Beberapa rekan di milis HRI (Human Resources Indonesia) pernah berdikusi hangat mengenai pentingnya sertifikasi profesional HR di Indonesia. Dari perspektif ini, Saya akan mengusulkan agar modul orientasi pemasaran dalam program Divisi SDM menjadi modul dasar bagi para peserta.

Manfaat Orientasi Pemasaran
Melakukan pemasaran program SDM berarti meningkatkan persepsi nilai (perceive value)  atas program-program SDM. Pada gilirannya ia berfungsi meningkatkan penerimaan atas program (acceptance). Ini dilakukan dengan cara meningkatkan fokus program. Juga mengidentifikasi target dan sasaran program yang lebih sesuai. Bahkan mengembangkan strategi promosi program yang memfasilitasi adopsi lebih cepat di benak seluruh karyawan. Teknik-teknik pemasaran dapat digunakan meningkatkan citra (image), kredibilitas, penerimaan dan efektifitas program-program SDM. Dengan cara inilah maka proses asimilasi sistem SDM akan lebih cepat masuk ke sel-sel operasional perusahaan.

Pendekatan pemasaran membuat sebuah program SDM juga meningkatkan nilai strategik komunikasi karena akan membuat komunikasi diarahkan pada key user atau change leader. Ini dilakukan dengan sadar karena kita secara sadar menggunakan pendekatan spokesperson. Pendekatan pemasaran juga mebuat profgram SDM menerapkan pendekatan saluran komunikasi communication channel yang sesuai. Apakah melalui memo, rapat, email, wallpaper, majalah internal, briefing, morning coffee, gathering, campaign atau ceremonial.

Rencana pemasaran strategik atas program SDM, tulis Jerry W. Gilley memiliki empat tujuan.

Pertama, bagaimana mengoptimalkan kepuasan seluruh pihak terkait program SDM tersebut (meet stakeholders needs). Dalam hal program, kerangka berpikir pemasaran pada program kerja HRD membantu merancang dan mengembangkan program SDM yang berdasarkan kebutuhan.

Kedua, bagaimana program SDM disesuaikan dengan kondisi bisnis dan lingkungan kerja yang terus berubah (adjustment)

Ketiga, dari aspek misi, membantu profesional Divisi SDM memperjelas misi program.

Keempat, dari aspek promosi, membantu profesional SDM merancang aktifitas promosional untuk mengkomunikasikan nilai-nilai program SDM pada seluruh aspek operasi yang meningkatkan kinerja perusahaan.

Dengan pendekatan pemasaran, program HRD bukan hanya diletakkan pada “bagaimana melakukannya” (how to) tetapi pada “manfaat -jangka panjangnya” (the benefit of). Manfaat program ditonjolkan lebih banyak, lebih dahulu, ketimbang cara menggunakannya (dap)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 872 other followers

%d bloggers like this: