APA ITU KOMPETENSI

Darmin A. Pella

ad_peopleKompetensi adalah salah satu kata yang paling banyak diperbincangkan dewasa ini.  Presiden menekankan pentingnya kita sebagai bangsa yang memiliki sumberdaya manusia berkompetensi unggul.  Sekolah mulai menerapkan kurikulum berbasis kompetensi. Orang tua ingin membesarkan anak yang memiliki kompetensi memenuhi tuntutan masa depan yang jauh lebih tinggi daripada tuntutan kompetensi pada orang tuanya pada hari ini.

Dalam lingkup bisnis, pemilik sebuah usaha senantiasa menekankan agar seluruh karyawannya memiliki kompetensi.  Manajer di sebuah perusahaan secara konsisten mengukur dan menilai perkembangan kompetensi bawahannya.

Tidak hanya di lingkup bisnis. Kita mendengarkan dan menggunakan kata kompetensi dalam percakapan sehari-hari. Kita mendengarkan keluhan seseorang tentang petugas pelayanan yang tidak kompeten. Kita mendengarkan media mengkritik pejabat publik yang dianggap tidak kompeten. Masyarakat mengeluhkan supir angkutan umum yang tidak kompeten. Bahwa pemeluk agama dapat berkata ia mendengarkan khotbah yang dibawakan oleh orang yang tidak kompeten.

Kata kompetensi mengisi keseharian kita. Di lingkup bisnis, keluarga, maupun sosial kemasyarakatan.  Tetapi apa itu kompetensi?


Kata kompetensi (competence) sebagaimana kebanyakan kata di dunia ini, berasal dari bahasa Latin competens.  Competens merupakan bentuk present participle dari kata kerja competere.  Kata ini mengandung dua unsur: com, yang berarti “bersama-sama (together)”, dan petere, yang berarti berjuang (strive).  Jadi competere secara literal berarti berjuang bersama (to strive together). 

Menarik sekali bahwa kata kompetensi (competence) dan kompetensi (competition) keduanya merupakan derivasi dari competere. Dan sebagaimana kita sudah mahfum bersama kini,  kompetisi adalah kekuatan penggerak dibalik fokus industri pada kompetensi.  Interestingly, as we have seen, competition is the driving force behind the current focus on competence”.

 Ide mengenai kompetensi erat hubungannya dengan ide mengenai kapabilitas.  Orang yang berkompeten adalah orang yang kapabel. Sebagaimana tim yang kompeten tentu tim yang kapabel.  Dan organisasi yang berkompeten adalah organisasi yang kapabel.  Asosiasi kompetensi dan kapabilitas ini tentu saja membuat kompetensi berkaitan dengan kesuksesan menuntaskan pekerjaan (getting the job done).  Dalam konteks manajemen mutakhir kini, kompetensi adalah segala sesuatu mengenai penciptaan nilai tambah. Competence is about adding value.

 Dampaknya, semakin banyak perusahaan, organisasi, sekolah, praktisi  dan konsultan yang berfokus pada pendekatan berbasis kompetensi.    Muncullah gerakan mengkompetensikan segala sesuatu. Di Eropa dan Amerika menyebutnya  sebagai competency movement.   Gerakan kompetensi awalnya mempertanyakan dua hal sederhana”  “Kita sebaiknya bagus di bidang apa? Dan bagaimana kita dapat mengembangkan kompetensi apa saja yang diperlukan sehingga bisa sangat bagus di bidang tersebut?”

Gerakan mengkompetensikan segala sesuatu ini semakin menggema melalui salah satu ikonnya,  ketika C.K. Prahalad dan Gary Hamel’s menulis artikel “The Core Competence of the Organization’s” dalam salah satu edisi Harvard Business Review 1990.  Prahalad dan Hamel yakin bahwa organisasi atau perusahaan yang bisa bertahan di dunia industri yang turbulen saat ini adalah yang mampu memelihara dan mengembangkan kompetensi intinya.   “Oganizations that will survive and thrive in these turbulent times are those that nurture their core competencies”

About these ads

4 Responses

  1. Salam Kenal,

    Saya sangat tertarik dengan tuilisan anda. Padat dan mudah dicerna itu saja. Sangat menarik dan enak dibaca sebagai tambahannya.

    Mudah-mudahan saya bisa belajar banyak dari tulisan anda. Dengan kerendahan hati tolong kirim tips menulis yang baik, berisi dan enak dibaca.

    Makasih n salam kenal.

    Heri Sujono

  2. tulisan anda akan lebih baik bila sebutkan pendapat siapa dimana ditemukan, trimks

    • mungkin ketika menulis saya memprioritaskan rasa artikel bukan rasa karya ilmiah ya, terima kasih masukannya, next time saya usaha menulis dengan menyebutkan tokohnya, dengan prioritas tidak merusak keasyikan enak membaca dan perlu

      • terlebih karena menyebutkan sumber buku atau nama orang yang mengeluarkan pendapat/statemen (jika ada lho…) merupakan etika penulisan yg sangat standar, baik tulisan ilmiah ataupun fiksi sekalipun. good writing anyway, teruslah menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 872 other followers

%d bloggers like this: